Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Wisata Sejarah’ Category

Melaka 1

Kadang jalan-jalan tidak selalu dimaksudkan benar-benar untuk jalan-jalan. Seperti saya awal Juli kemarin misalnya, ke Melaka sebenarnya mau berobat, eh kok ya ternyata sempat juga jalan-jalan di kota paling bersejarah di Malaysia itu.

Perjalanan saya dimulai pagi hari dari Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center. Tiket PP ke Stulang Laut Johor sudah saya beli dua hari sebelumnya seharga Rp.300.000. Itu tiketnya aja, belum termasuk tax dari Batam Rp.65.000 & tax dari Malaysia RM20.

Dua jam melintasi perairan tiga negara, sampailah saya di pelabuhan ferry Stulang Laut atau nama resminya Berjaya Waterfront, Johor Bahru. Saya pun menunggu jemputan yang dijanjikan datang pukul 11.30 waktu Malaysia. Jadi ceritanya rumah sakit Mahkota Medical Centre Melaka(tempat saya akan berobat) menyediakan minibus jemputan khusus untuk calon pasien yang mendaftar di Batam. Begitulah, saking banyaknya orang Batam(baca: Indonesia) yang berobat ke Malaysia, sampai-sampai disediakan mobil jemputan khusus.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

 

Masjid Sultan Abu Bakar

Masjid Sultan Abu Bakar

Tergiur oleh iklan di koran, hari selasa minggu lalu saya memesan paket tour ke Johor Malaysia. Paketnya murah, Rp.550.000/orang. Bertujuh cuma kena Rp.3.850.000. Tidak termasuk makan dan tip tour guide RM5/orang.

Maka pada hari libur kejepit kenaikan Yesus Kristus, jam lima subuh kami sudah berkumpul di pelabuhan Batam Center. Kami akan berangkat ke Singapore dengan first ferry. Walaupun tujuannya ke Johor, ferrynya tetap tujuan Singapura. Ini strategi operator tour (BatamFast) untuk menghemat biaya.

Dan strategi itu ternyata bikin capek peserta tour. Seharian delapan kali kami melewati kantor imigrasi atau checkpoint; Batam – Singapore(Harbourfront) – Singapore(Tuas) – Malaysia(Sultan Abu Bakar) – Malaysia(Sultan Iskandar) – Singapore(Woodlands) – Singapore(Harbourfront) – Batam. Fiuh! Cap paspor langsung full dua lembar.

(more…)

Read Full Post »

masjid temenggong daeng ibrahim

Hanya satu kilometer dari Universal Studio Singapore(USS) yang kondang itu, terdapat sebidang tanah yang tidak dikuasai oleh pemerintah negara Singapura. Di sebidang tanah tersebut yang berdaulat justru Kesultanan Johor, Malaysia. Kok bisa?

Sebidang tanah yang saya maksud adalah komplek Masjid Temenggong Daeng Ibrahim. Dari 69 masjid di Singapura, hanya masjid ini yang tidak diurus oleh MUIS(dirjen agama islam kementerian agama singapura), melainkan dikuasai dan dikelola oleh Kesultanan Johor, Malaysia. Kok bisa?

Begini ceritanya…

(more…)

Read Full Post »

camp vietnam

Ex Camp Pengungsi Vietnam adalah objek wisata sejarah paling kondang di Batam. Tak cuma paling kondang, bisa jadi malah satu-satunya objek wisata sejarah di Batam, jika makam-makam kuno zaman kerajaan dikecualikan.

Bagi sebagian orang batam, Ex Camp Pengungsi Vietnam(selanjutnya saya sebut Camp Vietnam saja) dianggap sebagai salah satu must visit place, jika ada kerabatnya yang melancong ke Batam. Tak lengkap rasanya jalan-jalan ke batam tanpa mengunjungi Barelang; Jembatan Barelang »» Pantai Melayu/Mirota/Melur »» Camp Vietnam. Ketiganya ibarat paket wisata terusan. Satu kesatuan. Cmiiw.

(more…)

Read Full Post »

??????????

narsis meringis di masjid raya medan. ini aslinya panas terik 😀

Saya agak kecewa waktu berkunjung ke Masjid Raya Medan dan Istana Maimun awal Desember lalu. Dua tempat bersejarah yang jadi ikon wisata kota medan itu jauh dari yang saya bayangkan. 😦

Pulang dari danau toba, saya sempat singgah sebentar di kota Medan. Saking sebentarnya, saya sampai cuma punya waktu tiga jam mutar-mutar kota terbesar di pulau Sumatra itu.

Dari parapat, saya tiba di terminal amplas medan, malam minggu(7/12) pukul 21.30. Dari amplas saya naik angkot warna kuning berkode 64 menuju Masjid Raya Medan, turun persis di depan masjid. Suasana waktu itu masih sangat ramai. Terasa sekali suasana malam minggu kota besar.

(more…)

Read Full Post »

Kampung Tua Dapur Dua Belas (KTDDB) adalah satu dari 30-an kampung tua di Kota Batam. Di batam, sebuah kampung digelari ‘ tua’ apabila ia telah wujud sebelum terbentuknya Otorita Batam tahun 1971.

Nama dapur dua belas diambil dari sejarah kampung ini; konon dulu di KTDDB terdapat dua belas buah dapur arang. Dapur arang ialah sebutan untuk tungku pembakaran arang yang bentuknya bisa dilihat di akhir tulisan ini.

Harian Haluan Kepri edisi 8 Agustus 2012 mengisahkan; Tahun 1950-an hiduplah seorang pengusaha bernama Tolo Tong Ci. Beliau merupakan orang terkaya di Pulau Buluh, sebuah pulau kecil dekat batam. Beliaulah sang pemilik usaha pembuatan arang di KTDDB. Saking besarnya, beliau memiliki sampai 12 buah dapur arang. Asal tahu aja, satu dapur arang kubahnya saja setinggi tiga meter, dengan diameter ruang pembakaran mencapai lima meter.

Arang produksi Tolo Tong Ci ini semuanya dijual ke Singapura dengan menggunakan mata uang dollar. Dijual dalam  satuan kati, satu kati dihargai 40 sen.

Roda bisnis terus berputar, pemerintah kemudian melarang aktivitas produksi arang di batam. Agaknya untuk menghindari rusaknya hutan bakau di pulau batam. Bahan baku arang memang dari kayu bakau. Sejak itu pula, usaha arang di KTDDB meredup hingga akhirnya terhenti.

Kini, dari dua belas bangunan dapur arang yang pernah ada hanya dua buah yang tersisa. Dua yang tersisa ini pun sama sekali tak dihargai,  hanya menjadi tempat warga membuang dan membakar sampah. Padahal bisa jadi inilah situs bangunan tertua di batam.

Tertarik jalan-jalan ke KTDDB? Tak usah! Ia bukan destinasi wisata seperti kampung tua nongsa pantai atau batu besar. Jalan ke sana saja banyak yang rusak, dan sampah dibuang sembarangan di sepanjang tepi jalan.

Cukuplah membaca blog saya ini saja, sebagai tambahan wawasan seputar sejarah masa lalu pulau batam. Akur.

wujud sang dapur arang

pelantar kampung tua dapur dua belas

Read Full Post »

Waktu jalan-jalan ke Jawa Timur akhir tahun lalu, saya sempat mengunjungi situs arkeologi Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Di Trowulan ini terdapat banyak situs bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit. Kebanyakan berupa candi-candi kuno. Saya sempat mampir di dua candi: Candi Brahu & Gapura Wringin Lawang. Berikut liputannya.

Candi Brahu


Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Trowulan. Lokasinya 700 meter dari jalan raya Mojokerto-Jombang. Kalau anda dari arah Jombang, beloklah ke kiri di perempatan setelah SMPN 2 trowulan.

Candi brahu berukuran 22,5 x 18 meter, dengan tinggi mencapai 20 meter. Dari penelahaan struktur dan artefak, ditarik kesimpulan bahwa candi brahu merupakan candi agama budha. Nah, berbeda dari umumnya candi-candi kuno yang dibangun dari batu andesit, candi brahu (dan candi-candi lain di trowulan) dibangun dari bata merah. Agak disayangkan, karena menghilangkan kesan kuno dan purba. Apalagi candi dari bata merah begini tak memiliki relief-relief cerita di badan candi.

Tapi meski begitu, umur candi brahu sudah lumayan tua loh. Diperkirakan dibangun pada abad 15 Masehi. Sebagian pakar sejarah malah menduga candi brahu berusia jauh lebih tua. Sebab prasasti yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 861 Saka atau 939 masehi, sudah menyebut-nyebut candi brahu yang fungsinya sebagai tempat pembakaran(krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya.

Terdapat sebuah pintu atau lubang di tengah-tengah badan candi brahu. Tapi jangan harap bisa mencapai pintu tersebut, karena naik ke badan candi saja kita sudah dilarang. Mungkin agar kita nggak kejatuhan batuan candi yang memang tampak rapuh. Candi brahu pernah dipugar antara tahun 1990 sampai 1995.

Gapura Wringin Lawang


Dari candi brahu, saya lanjut ke Gapura Wringin Lawang. Sisa kerajaan majapahit yang satu ini terletak di Dukuh Wringinlawang, Desa Jati Pasar, Trowulan. Sekitar 3 km dari candi brahu.

Bentuk wringin lawang persis gapura candi bentar pura-pura di bali. Hanya, wringin lawang berukuran lebih besar, dan tentu saja berumur lebih tua. Belum diketahui pasti kapan wringin lawang dibangun, tapi diperkirakan pada abad ke-14 masehi. Sebagaimana candi brahu, gapura wringin lawang dibuat dari bata merah. Berukuran 13 x 11 meter dengan tinggi 15,5 meter.

Mengenai fungsi wringin lawang, ada beragam pendapat mengemuka. Salah satunya mengatakan wringin lawang berfungsi sebagai pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada. Yup, ksatria yang mengikrarkan sumpah palapa itu. Tapi kebanyakan sejarawan beranggapan gapura ini adalah pintu masuk menuju komplek bangunan penting di ibu kota Majapahit, tanpa bisa memastikan secara spesifik bangunan apa itu.

Saat ini lokasi wringin lawang dikepung oleh sawah dan ladang di tiga sisi; utara, timur dan selatan. Waktu mampir ke sini, saya ‘dihibur’ oleh pemandangan petani membajak ladangnya dengan sapi. Sungguh pemandangan langka. Secara hari gini rata-rata petani udah mbajak pake quick. *eh

Selain candi brahu dan wringin lawang sebenarnya masih buanyak lagi situs bersejarah di trowulan yang bisa kita explore. Beberapa yang menarik di antaranya candi tikus, candi bajang ratu, dan kolam segaran.

Karena kekayaan situs arkeologinya, sejak 2009 pemerintah telah mengajukan agar Trowulan dijadikan Situs Warisan Dunia UNESCO. Semoga segera terwujud deh. Amien.

Read Full Post »

Older Posts »