Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Wisata Gunung’ Category

??????????

Mendaki gunung singgalang adalah pengalaman pertama saya mendaki gunung. Dulu sih pernah mendaki kawah gunung bromo dari pura luhur poten, tapi itu lebih tepat disebut jalan-jalan daripada mendaki gunung. Pernah juga mendaki gunung bintan tiga tahun lalu. Sayangnya gunung bintan terlalu pendek untuk disebut gunung. Gak sampai 500 meter. Aku malu..

Nah gunung singgalang di Sumatra Barat ini beneran gunung. Tingginya 2877 meter dari permukaan laut. Wujudnya pun stratovolcano sempurna, meski sekarang sudah tidak aktif lagi.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

rumah gadang

Alhamdulillah, liburan lima hari di Sumatera Barat usai sudah. Senaaang sekali rasanya bisa liburan panjang lagi setelah terakhir saya lakukan di 2011. ~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~

Sejak ramadhan lalu saya memang sudah merancang solo traveling ke sumatra barat. Setelah melewati berbagai kejadian, eh ujung-ujungnya gak jadi solo, malah beramai-ramai bareng bos besar segala.

(more…)

Read Full Post »

Yay! Senin-selasa kemarin saya dan Heru, teman kantor, jalan-jalan ke Pulau Bintan. Seluruh pulau bintan kami jelajahi, dari Tanjung Uban sampai ke Kijang. Naik apa? Boncengan naik motor yang saya bawa dari Batam.

Kami menyeberang ke Bintan lewat pelabuhan RORO Punggur. Ada empat kali keberangkatan ferry RORO dari Batam ke Tanjung Uban setiap hari: Jam 8:00, jam 11:00, jam 13:00, dan jam 16:00. Kami menyeberang dengan ferry jam 11:00, alhasil tiba di Tanjung Uban tepat saat azan zuhur berkumandang. Oya, Tanjung Uban merupakan kota kecil di ujung barat pulau Bintan.

Sekedar wawasan buat yang belum tahu, Pulau Bintan adalah salah satu pulau utama di provinsi Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat dua daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Bintan dan Kota Tanjung Pinang. Di Pulau Bintan terdapat pula sebuah kawasan wisata eksklusif bernama Lagoi. Lagoi ini kondang di kalangan turis mancanegara karena panorama pantainya yang mempesona. Dan karena eksklusif (baca: mahal) kami tidak mampir ke Lagoi. Bintan bukan cuma lagoi kan?

So, tempat yang kami kunjungi pertama adalah Pantai Sakera. Letaknya di kelurahan Tanjung Uban Utara, 10 menit dari kota Tanjung Uban. Pantainya bagus, mirip-mirip Pantai Nongsa di Batam. Bedanya pasir pantai sakera lebih putih.

Dari sakera kami kemudian meluncur 35 km ke timur, menuju Air Terjun Gunung Bintan. Sayang, sama seperti pada kunjungan saya sebelumnya, air terjun di kaki Gunung Bintan ini tetap jelek (⌣́_⌣̀) Debit airnya itu lho, keciiil banget kaya’ pipis kuda. Padahal abis hujan..

Dari Gunung Bintan kami meluncur lagi puluhan kilometer ke pesisir timur pulau bintan, yakni Pantai Trikora. Wuhuu.. Pantai ini hadirin, subhanallah banget bagusnya. Tak percuma datang jauh-jauh bisa demi pantai sebagus ini.

Menjelang maghrib kami meluncur ke kota Tanjung Pinang. Sejam perjalanan dari pantai trikora. Di kota sebenarnya banyak pilihan hotel murah yang bertebaran di sekitar pelabuhan Sri Bintan Pura. Tapi kami pilih menginap di tempat yang jauh lebih nyaman; kosan teman. Muahahaha

Hari kedua, kami jalan-jalan ke Air Terjun Gunung Lengkuas. Gunung Lengkuas ini letaknya 25 menit dari Tanjung Pinang arah ke Kijang. Alhamdulillah, air terjunnya lebih bagus daripada air terjun gunung bintan yang kaya’ pipis kuda. Air terjun gunung lengkuas ini mirip pipis gajah. #eh

Abis dari gunung lengkuas, kami balik lagi ke…… pantai trikora! Yup, kunjungan ke pantai trikora hari sebelumnya masih berasa kurang hadirin. Serasa tak ingin pisah gitu. Air birunya, pasir putihnya, batu granitnya, semua indah luar biasa dan bikin jatuh cinta.. (´⌣`ʃƪ) Di Batam gak ada pantai sebagus ini. Maha suci Allah yang menciptakan pantai seindah trikora..

Dari trikora kami pun meluncur pulang ke Batam via Tanjung Uban. Penjelajahan pulau Bintan dari ujung barat ke timur, utara ke selatan itu ternyata cuma butuh waktu 24 jam! Tiba di bintan tengah hari, meninggalkan bintan juga tepat tengah hari. Weekend dijamin cukup deh untuk menjelajah bintan.

Yang tertarik mengikuti jejak, foto-foto lengkap & cerita detil hadir di postingan berikutnya yah. Dadah! (ɔ ˘⌣˘)/

Read Full Post »

Bagian 1

Gunung Kelud itu unik eh enak. Kita nggak perlu ribet-ribet mendaki dari lereng gunung. Cukup naik mobil atau motor kita sudah bisa sampai di leher gunung. Mirip-mirip gunung telomoyo di jawa tengah. Setelah itu kita tinggal jalan kaki sedikit untuk sampai ke kawah gunung kelud. Di kawah kelud tadinya terdapat sebuah danau, tapi sejak erupsi 2007 berubah menjadi kubah lava yang disebut anak gunung kelud.

Hari ahad dua minggu lalu, saya kehujanan di puncak gajah mungkur gunung kelud. Mantel hujan yang saya pakai sampai tembus, tak kuat menahan derasnya air hujan.

Turun dari gardu pandang di puncak gajah mungkur, saya melanjutkan perjalanan ke mata air panas gunung kelud. Kalau ke gardu pandang kita harus naik sekitar 600 anak tangga, maka untuk ke mata air panas kebalikannya kita harus turun beratus-ratus anak tangga. Fuih, kaki benar-benar aset penting jalan-jalan ke Kelud. Untungnya, tangga naik turun di kawasan wisata gunung kelud kondisinya sudah baik. Berupa tangga batu yang tersusun rapi dan sudah ada pegangan besinya. Wajar kalau gunung kelud meraih penghargaan sebagai objek wisata alam terbaik dalam Anugerah Wisata Nusantara 2011 oktober lalu.

15 menit menuruni tangga sampailah saya di mata air panas gunung kelud, yakni sebuah sungai dengan asap mengepul-ngepul, pertanda kalau airnya panas. Batuan sungainya berwarna coklat tanda mengandung belerang.

Ada kebohongan publik terjadi di sini. Plang informasi yang dipasang sebelum tangga turun ke mata air panas bunyinya “Spa Air Belerang”. Tapi setelah saya sampai di bawah, mana spa-nya? Nggak ada bangunan apa pun di sini selain sungai.

Tanpa membuang waktu saya langsung mencari lokasi strategis buat merendam kaki. Alhamdulillah nemu batu yang cocok buat duduk. Begitu merendamkan kaki, rasanya subhanallah banget, semacam cesss… secara tadi habis kehujanan.

Lagi enak-enaknya merendam kaki, datang segerombolan mas-mas dan mengajak saya ngobrol. Mereka excited pas saya bilang saya dari batam. Mungkin kesannya saya dari jauuuh kali ya, secara mereka dari sekitaran kediri situ juga. Setelah itu mereka ngobrol panjang lebar tanpa bisa saya pahami lantaran bahasa jawanya kelewat cepat.

Setelah 30 menit saya menyudahi ritual berendam kaki. Kembali ke atas menaiki ratusan anak tangga lagi. Fiuh. Sampai di atas saya foto-foto sebentar, trus langsung tancap gas pulang.

Oya, di salah satu ruas jalan di sekitaran pinggang gunung kelud ada yang disebut misterious road. Yaitu seruas jalan yang katanya memiliki medan magnet. Jadi meski jalannya menanjak, konon kendaraan yang berhenti di tengah jalan tersebut akan tetap meluncur naik. Wew, saya pun mencoba. Motor saya matikan, kaki nggak saya pake nahan, dan ternyata.. motor berjalan mundur. (ˇ_ˇ) Medan magnetnya nggak bekerja euy. Atau mungkin cuma berlaku buat mobil kali ya?

Perjalanan pulang dilanjutkan melewati beberapa kecamatan di kabupaten kediri; ngancar, wates, plosoklaten. Pas di plosoklaten saya melewati sebuah desa bernama desa jengkol. Bukan cuma nama desanya yang unik, makanan khasnya juga nyentrik. Mau tau apaan..?

Yakin mau tau..?

Makanan khasnya adalah *taraa* sate bekicot! Di sepanjang jalan raya desa jengkol ini berdiri banyak warung makan dengan menu andalannya sate bekicot. Saya pun membeli bungkus 50 tusuk seharga Rp.15000, dan ternyata rasanya… enak! Susah mendeskripsikan rasanya, yang jelas enak.

Selain sate, tersedia juga kripik bekicot. Tapi saya nggak beli karena menurut saya harganya agak *psst* mahal.

Setelah membeli sate bekicot, saya lanjut pulang ke rumah saudara saya di Plemahan kediri. Sampai rumah langsung mandi, makan, trus melemaskan otot-otot kaki yang tadi diforsir naik turun ribuan anak tangga di kelud. Asal tahu aja, pegal-pegal di kaki ini baru hilang lebih dari seminggu kemudian.

Selamat berwisata ke kelud! 🙂

Read Full Post »

Bukan ide cemerlang jalan-jalan ke Kelud pada musim hujan. Kalau tetap nekad, nasib anda bakal seperti saya; basah kuyup di puncak kelud.

Jadi ceritanya menjelang siang di suatu hari minggu sampailah saya di pos masuk kawasan wisata gunung kelud. Setelah membayar retribusi Rp.6000,- saya dipersilahkan dengan sopan oleh mas-mas pengawal pos untuk melanjutkan perjalanan menuju gunung kelud. Dari pos masuk menuju pemberhentian terakhir jaraknya 10 km.

Setelah melewati jalanan terjal dengan tebing rawan longsor di sana sini, sampailah saya di pelataran parkir gunung kelud. Parkirannya luas, muat ribuan kendaraan. Parkiran ini terletak di ketinggian 1200 meter dari permukaan laut. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kabupaten blitar dan kediri nun jauh di bawah sana. Pemandangan seperti inilah yang selalu saya idam-idamkan dan tak bisa saya dapatkan di batam. (´▽`ʃƪ)

Setelah memarkir motor saya lanjut berjalan kaki menuju kawah gunung kelud. Untuk menuju kawah kita akan melewati sebuah terowongan sepanjang 110 meter. Konon terowongan tersebut dibangun pada zaman jepang dan dimaksudkan sebagai jalan pembuangan lahar gunung kelud.

Keluar dari terowongan, maka sampailah kita di areal kawah gunung kelud. Di depan terpampang anak gunung kelud dengan batuannya yang berwarna hitam. Anak gunung kelud tersebut baru terbentuk pada erupsi gunung kelud tahun 2007. Sebelum ada anak gunung kelud, di lokasi yang sama terdapat sebuah danau kawah. Arul, teman saya, mengaku pernah berenang di danau kawah tersebut. Katanya airnya hangat dan beraroma belerang. Sekarang danau kawah tersebut tinggal kenangan (lihat video danau kawah kelud di sini).

Persis di belakang anak gunug kelud, tampak menjulang puncak kelud setinggi 1731 meter. Puncak kelud ini seolah memeluk anak gunung kelud dalam dekapannya. Ibu dan anak yang akur.. *apa sih*

Di sebelah kanan anak gunung kelud, tampak tegak menjulang puncak sumbing. Bentuk puncak sumbing ini unik, berputar setengah lingkaran dengan tebing-tebing tingginya yang terjal. Keren banget buat background foto.

Sementara di sebelah kiri adalah puncak gajah mungkur. Di atasnya terdapat sebuah gardu pandang. Puncak gajah mungkur inilah yang paling gampang didaki karena sudah tersedia tangga naik. Tanpa pikir panjang saya pun langsung naik menuju gardu pandang gajah mungkur. Jaraknya lumayan, 600 anak tangga.

Ya, 600 anak tangga… Lumayan cape ternyata. Awalnya saya berhenti istirahat tiap 50 anak tangga. Tapi makin ke atas, saya makin sering berhenti. Ujung-ujungnya istirahat tiap 20 anak tangga. 😀 Beruntung panorama dari tangga naik ini indah, jadi sambil berhenti kita bisa menikmati pemandangan kawah gunung kelud.

Di tengah perjalanan naik, hujan mulai turun. Para pengunjung dari atas mulai berbondong-bondong turun. Mungkin karena takut kehujanan. Tapi saya tetap naik dong, kan bawa mantel hujan.. (˘⌣˘)

Alhamdulillah, tak sampai setengah jam saya tiba di puncak. Bersamaan dengan itu hujan pun turun dengan derasnya. Untung gardu pandangnya beratap, jadi saya ada tempat berteduh. Tadinya saya pikir saya bakal jadi satu-satunya orang di puncak, tapi ternyata masih ada sepasang muda-mudi. Mereka menyapa basa-basi, saya tersenyum baso sapi. Sambil menunggu hujan reda, mereka pacaran. Sementara saya mati gaya; mau foto-foto, hujan. Mau twitteran, nggak ada sinyal. (ˇ_ˇ)

Ketika hujan sedikit mereda, sepasang muda-mudi tadi turun. Tinggallah saya seorang diri di gardu pandang gajah mungkur, berharap hujan benar-benar berhenti kemudian awan tersibak, langit bersih, dan saya pun bisa menikmati pemandangan spektakuler dari puncak gajah mungkur ini.

Namun harapan tinggallah harapan. Bukannya mereda, hujan justru makin lebat. Sekarang malah ditambah angin, menderu-deru, bertiup kian kemari. Atap gardu jadi tak ada gunanya lagi karena air bukan cuma datang dari atas tapi juga datang dari segala arah terbawa angin. Saya yang memakai jaket dan mantel hujan lengkap perlahan tapi pasti mulai kedinginan…

15 menit berlalu…

30 menit berlalu…

45 menit berlalu, dan hujan masih deras….

Hampir sejam hujan nggak berhenti-berhenti, saya memutuskan turun. Dinginnya itu lho nggak nahan, diterpa angin terus-menerus. Perjalanan turun pun dimulai melalui tangga yang sama. Tapi ternyata, ada kesulitan besar menghadang di perjalanan turun..

Jadi karena hujan, tangga naik tadi rupanya berubah menjadi semacam air terjun. Debit airnya nggak main-main, mengalir deras dari atas ke bawah mengikuti alur tangga. Maka saya pun menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Saya tak mau ambil resiko. Langkah kurang kokoh dikit aja, alamat terseret air, terpeleset, trus jatuh berguling-guling ke bawah. Trus besoknya masuk koran kriminal “wisatawan asal batam tewas kepeleset di gunung kelud” (ˇ_ˇ)

E tapi pas perjalanan turun, saya melihat sebuah pemandangan spektakuler lho! Jadi berkat hujan lebat, dinding kawah di sebelah kiri saya rupanya berubah menjadi ratusan air terjun besar dan kecil. Luarrr biasa indahnya!! Dengan susah payah saya coba mengambil foto. Sayang hasilnya jelek karena motonya sambil ribet melindungi camdig dari hujan.

Selesai moto saya lanjut turun. Agak bergegas karena mantel hujan saya sudah mulai tembus air hujan. Ketika akhirnya sampai di bawah, baju saya sudah benar-benar basah kuyup. Mantel hujannya ternyata nggak kuat nahan hujan lama-lama. Dan bersamaan dengan saya sampai di bawah, hujan pun perlahan berhenti… (ˇ_ˇ)

Bersambung ke bagian 2 minggu depan 😀

Read Full Post »

10-12 Desember kemarin saya jalan-jalan ke Pulau Bintan. Sebenarnya tidak murni jalan-jalan, melainkan ada keperluan di Tanjung Pinang. Tapi daripada langsung ke tanjung pinang pakai ferry yang ‘biasa banget’, mending sekali-kali nyobain rute berbeda: Batam – Tanjung Uban – Tanjung Pinang.

Dengan bekal informasi dari internet, saya beranikan diri membawa motor ke Pulau Bintan. Maksudnya biar lebih leluasa ke mana-mana. Dari pelabuhan Punggur Batam saya menyeberang ke Tanjung Uban dengan fery RORO. Fery RORO ini persis seperti fery penyeberangan Ketapang-Gilimanuk atau Merak-Bakauheni. Ticket penyeberangan seharga Rp.14500,- per penumpang, dan Rp. 24000,- untuk sepeda motor. Jadwal keberangkatan Batam-Tanjung Uban tiap jam 10 pagi dan jam 4 sore. Sementara Tanjung Uban-Batam tiap jam 8 pagi dan jam 1 siang.

Oya, untuk membawa motor atau mobil ke luar batam kita harus membuat surat jalan. Persyaratannya adalah fotokopi BPKB, STNK dan SIM. Pembuatannya di pos polisi dekat loket tiket ferry. Tapi oleh pak polisi yang bertugas hari itu saya tak dibuatkan surat jalan. Katanya motor saya adalah motor batam yang bebas pajak sehingga tidak boleh keluar Batam. Untung pak polisinya baik, motor saya tetap diizinkan menyeberang asal jangan lama-lama. Besok atau lusa harus sudah balik.

Setelah satu jam menyeberangi selat riau sampailah saya di Tanjung Uban. Tak hendak berlama-lama di kota kecil di ujung barat pulau bintan ini, saya langsung meluncur tujuan utama saya datang ke pulau ini;  Gunung Bintan. Letaknya kira-kira 35 km di sebelah timur tanjung uban. Bisa dicapai dalam waktu setengah jam.

Ada yang aneh dengan gunung bintan. Dari jauh dia tampak begitu menjulang. Tapi semakin saya mendekat, gunung bintan malah tampak semakin rendah. Dari sudut tertentu tampak hanya seperti sebuah bukit yang menggunung. Usut punya usut ternyata gunung ini hanya setinggi 400-an meter. Menara Petronas mungkin lebih tinggi! Namun karena merupakan titik tertinggi di pulau bintan maka secara aklamasi disebut gunung.

Di kaki gunung bintan terdapat sebuah air terjun yang dikenal dengan nama Air Terjun Gunung Bintan. Untuk masuk ke kawasan wisata air terjun ini per orang dikenakan retribusi Rp.4000,-

Air terjun gunung bintan tingginya sekitar 7 meter. Debit airnya kecil saja. Jangan pernah membandingkan dengan curug atau coban di tanah jawa yang airnya melimpah ruah. Tapi saya rasa debit air gunung bintan ini tergantung musim. Foto-foto air terjun gunung bintan di blog aprillayunita tampak berair deras. Mungkin dia datang pas musim hujan.

Di sisi kiri air terjun ada tanjakan menuju ke puncak gunung bintan. Di gerbang masuk tertera pengumuman bahwa bagi yang belum pernah ke gunung bintan dan hendak mendaki ke puncak, harus didampingi pemandu lokal. Tapi menurut saya itu tidak perlu. Saya sudah coba mendaki gunung ini sendirian, dan nyatanya saya bisa sampai ke puncak tanpa kendala sedikit pun. Jalan setapak dan tanjakan menuju puncak cukup jelas, dan tidak banyak jalan bercabang yang bisa bikin kesasar. Di beberapa bagian pendakian yang terjal juga terpasang seutas tali yang amat sangat membantu untuk naik dan turun gunung.

Mungkin karena mendaki sendirian, adakalanya bulu kuduk saya bergidik ketika melewati beberapa bagian tanjakan. Maklumlah, sepanjang jalur pendakian ini masih berupa hutan nan lebat. Monyet saja masih wara-wiri di atas pohon. Sepanjang perjalanan saya berdoa semoga tidak datang segerombolan monyet liar mengejar saya, atau orang bunian mengajak saya ke dimensi lain. #imajinasi liar 😛

Kurang lebih satu jam saya sampai di puncak. Lumayan keringetan. Di puncak ada tugu kecil yang menandai bahwa lokasi itu adalah puncak. Sayang seribu sayang kita tidak bisa leluasa memandang ke sekeliling alam karena puncak gunung bintan masih tertutup pepohonan lebat. Hanya ada celah kecil di antara rerimbunan yang menghadap ke teluk bintan. Dari situ samar-samar kita bisa melihat kantor walikota Tanjung Pinang yang megah.

Buat yang ingin berkemah, ada lokasi perkemahan beberapa puluh meter sebelum puncak. Ada sungai kecilnya juga buat sumber air bersih. Yang pengen persami boleh dicoba nih.

Turun dari gunung paling asyik langsung nyebur di air terjun gunung bintan. Setelah itu, bisa langsung berburu durian murah. Dengar-dengar sekitar gunung bintan terkenal sebagai daerah penghasil durian. Sayangnya waktu saya datang, durian sedang tidak musim. So, kalau mau jalan-jalan ke gunung bintan datanglah antara bulan Juli – September, karena katanya pada bulan tersebut durian sedang panen.

Met jalan-jalan!

Read Full Post »

Tanggal 6 – 9 Maret 2009 kemarin untuk kedua kalinya aku travelling ke pulau dewata Bali. Dan baru pada kunjungan kedua inilah aku percaya kalau bali itu memang surganya dunia.

Perjalanan dimulai dari kota Pare Kediri menggunakan bis berkapasitas 30 tempat duduk. Berangkat tanggal 6 Maret jam 2.30 sore, tahukah kau kawan jam berapa kami menjejakkan kaki di bali? Jam 09 pagi tanggal 7 Maret! Bayangkan, perjalanan darat nyaris 20 jam! Itu pun baru sampai di Gilimanuk, bukan di Tanah Lot, tujuan wisata pertama kami. Padahal menurut rundown seharusnya kami sudah tiba Tanah Lot jam 5 subuh. Keterlambatan sampai 5 jam ini disebabkan oleh kecelakaan beruntun di Alas Baluran Banyuwangi, yang mengakibatkan jalan macet hingga berkilo-kilometer. Sabar.. sabar…

Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Tanah Lot. Tak perlu dijelaskan lagi tanah lot itu bagaimana karena tempat ini memang sudah terlalu popular. Pura di atas karang yang menjadi landmark tanah lot pun habis-habisan kami jadikan background foto. Sayang, saat kami tiba air laut tengah pasang, sehingga kami tidak bisa menjejakkan kaki langsung di pura.

Di bagian bawah karang pura anah lot terdapat sumber mata air tawar. Orang bali menganggapnya air suci, karena berasa tawar padahal berada di air asini. Konon air ini bisa menyembuhkan penyakit, mengentengkan jodoh, hingga mengabulkan permintaan. Boleh percaya boleh tidak.

Satu objek lagi yang menarik di tanah lot adalah Batu Bolong. Berupa tebing batu yang tengah-tengahnya bolong terkena abrasi. Foto-foto di bawahnya pasti keren. Lagi-lagi sayang, saat kami di sana air laut sedang pasang. Huft.

Dari tanah lot rombongan kami bergerak ke Nusa Dua, Tanjung Benoa. Di sini rencananya kita hendak menyebrang ke Pulau Penyu, tempat penangkaran penyu. Sayang, kami tiba terlalu sore dan tak memungkinkan untuk menyeberang. Harusnya dari tanjung benoa kita naik perahu untuk menuju ke pulau penyu. Perahunya glass bottom alias dasarnya terbuat dari kaca, sehingga sepanjang perjalanan menuju kita bisa menyaksikan keindahan dasar laut tanjung benoa.

Tak berlama-lama di tanjung benoa, kami langsung meluncur ke penginapan di Pantai Kuta. Beruntung sekali (setelah berkali-kali sayang) kami mendapat penginapan persis di depan pantai paling terkenal di Indonesia itu. Setelah mandi dan makan, tibalah saatnya bagi kami walking around kawasan kuta.

Malam itu kami rame-rame jalan kaki menuju Monumen Bom Bali I di Jalan Legian. Letaknya sekitar satu kilometer dari penginapan. Di sepanjang Jalan Kuta menuju Legian tempat-tempat nongkrong dan oulet-outlet terkenal berjejer menanti pembeli; Hardrock Cafe, Starbucks Coffe, D&C, Billabong, Surfer Girl dan lain-lain.

Sampailah kami di Monumen Bom Bali I. Di sebuah marmer hitam terpampang 200 nama korban yang meninggal pada peledakan bom 12 Oktober 2002 itu. Patutlah kiranya kita menundukkan kepala sejenak, mengheningkan cipta untuk mereka…

Balik ke penginapan, aku mampir ke pantai kuta. Sekedar duduk-duduk di atas pasir, menikmati udara pantai yang tenang malam itu. Nggak tahu apa setiap malam kuta memang sepi, yang jelas malam itu pantai kuta benar-benar sepi. Hanya satu dua wisatawan lalu lalang. Aku sempat kenalan dengan seorang pria yang tengah menunggu pacarnya pulang kerja. Pacarnya kerja sebagai dancer di salah satu cafe tak jauh dari tempat aku duduk. Kita ngobrol-ngobrol cukup lama, sampai akhirnya dia pergi karena pacarnya sms minta dijemput. Aku juga balik ke penginapan. Istirahat, menyimpan tenaga untuk petualangan besok.

***

Jalan-jalan hari kedua dimulai. Tujuan pertama kita adalah Pusat Oleh-oleh ‘Cah Ayu’. Konon inilah tempat membeli oleh-oleh paling terkenal di bali. Di ‘Cah Ayu’ berbagai jenis makanan ringan yang layak dijadikan buah tangan dijual, seperti dodol aneka buah, brem, sruwa-sruwi, selai pisang, aneka kripik dll. Tapi yang menjadi khasnya Cah Ayu adalah kacang asinnya. Ada satu yang unik, yaitu jajanan yang terbuat dari tomat tapi rasanya persis buah kurma.

Dari Cah Ayu kami meluncur ke Pasar Sukowati. Pasar ini tak boleh dilewatkan kalau anda ke Bali. Oya, di Bali, khususnya kabupaten Gianyar, ada tiga pasar Sukowati; Sukowati Pusat, Sukowati II dan Sukowati III. Kali ini kami mengunjungi Pasar Sukowati Pusat.

Matahari bersinar terik ketika kami sampai di pasar sukowati. Udara terasa semakin panas saat kami blusukan dalam pasar yang pengap. Namun rasa panas itu serta merta sirna ketika kami mulai memilah milih barang, dan tawar-menawar harga. Jangan sungkan-sungkan menawar di sini. Anda malah harus berani menawar sampai 1/3 dari harga yang dipasang penjual. Kalo kamu jago nawar, kamu bisa dapat kaos oblong bali dengan harga kurang dari 10 ribu rupiah perpotong. Murah kan?! Nggak cuma kaos oblong, semua barang kerajinan yang layak dijadikan oleh-oleh dijual di sini; baju, kemeja, sarong pantai, lukisan, kerajinan kayu dll. Komplit deh pokoknya!

Puas belanja sampai dompet kritis, kami lantas bergerak ke objek wisata terakhir di bali, yaitu Danau Bratan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Bedugul. Objek wisata ini bisa kamu lihat di uang kertas pecahan Rp.50.000.

Setelah sekitar satu jam perjalanan dari pasar sukowati dengan jalan yang terus naik, sampailah kami di bedugul. Di tengah perjalanan menjelang sampai bedugul, kami sempat melewati sebuah villa yang konon milik Tommy Mandala Putra, anak mantan penguasa orde baru;  Presiden Soeharto. Villa super besar itu tampak terbengkalai. Tapi aura kebesarannya di masa lampau tetap memancar.

Begitu keluar dari bis udara sejuk bedugul langsung menyergap kami. Maklum, bedugul berada di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Berdiri di pinggir danau bratan dan menatap Pura Ulun Danu yang tegak di tengah danau, rasanya nyawaku seketika tercabut dari dunia dan dengan semena-mena dicampakkanke nirwana. Menatap pura beratap sebelas tingkat dengan latar belakang Gunung Catur yang tertutup awan memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Awan-awan yang berarak rendah di atas danau tampak seumpama peri-peri jelita yang terbang pulang ke negeri kayangan. Membuang pandangan ke tengah-tengah danau beratan yang teduh seumpama membuang seribu beban yang telah lama bersarang di dada. Danau beratan, i love u so much.

Selain menikmati keindahan danau bratan dari tepi, kita juga bisa merasakan sensasi berkendara ke tengah danau. Ada tiga pilihan sarana: perahu dayung, perahu bermesin, dan jetski. Untuk berkeliling danau dengan perahu bermesin selama 10 menit anda hanya perlu merogoh saku sebesar 25.000 rupiah. Anda yang hobi mancing juga bisa menyalurkan hobi anda di danau beratan.Tapi please, jangan berharap dapat marlin ya! 🙂

Ketika matahari hampir jatuh di ufuk barat kami pun beranjak meninggalkan bedugul. Perjalanan pulang nan panjang ke kediri pun dimulai. Wisata dua hari mengelilingi pulau dewata usai sudah. Aku sangat menikmati tour keduaku ke pulau seribu pura ini. Dan bisa jadi ini adalah kesempatan terakhirku berwisata ke bali. Setelah ini aku akan pulang ke batam, dan kalau sudah di batam, bali terasa sangaaaaat jauh. Biaya ke bali dari batam pun akan berkali-kali lebih mahal dibanding berangkat dari jawa timur. Kalau sudah di batam mah mikirnya bukan jalan-jalan ke bali lagi, tapi ke singapura atau malaysia. Insyaallah akan kuceritakan juga. 🙂

Read Full Post »

Older Posts »